Tampilkan postingan dengan label MAMALIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAMALIA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

Kucing Emas


Kucing Emas di Taman Safari (photo : Kaskus)

Kucing emas ini dapat ditemukan di Pulau Sumatera yang antara lain terdapat di Taman Nasional Way Kambas (Lampung), Taman Nasional Batang Gadis (Sumatera Utara), dan Taman Nasional Kerinci Seblat (Jambi).

Ciri-ciri fisik dari hewan ini adalah: hampir seluruh tubuhnya berwarna cokelat keemasan, pada pipinya terdapat bulu putih, sedangkan bulu bagian perutnya berwarna lebih terang dari pada bagian punggung.

Berat rata-rata kucing emas dewasa ini sekitar 8-16 kg, panjang tubuh hewan ini berkisar antara 66-105 cm, dimana panjang ekornya adalah 40-57 cm.

Kucing emas mampu memangsa berbagai hewan yang lebih kecil seperti burung, tikus besar, dan berbagai reptil.

Selasa, 08 September 2009

Macan Tutul

Macan Tutul (photo : Taman Nasional Halimun)

Sabtu, 27 Juni 2009

Trenggiling

Trenggiling ( foto: detiknews )
Trenggiling biasa (Manis javanica syn. Paramanis javanica) adalah wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara. Hewan ini memakan serangga dan terutama semut dan rayap. Trenggiling hidup di hutan hujan tropis dataran rendah.
Bentuk tubuhnya memanjang, dengan lidah yang dapat dijulurkan hingga sepertiga panjang tubuhnya untuk mencari semut di sarangnya. Rambutnya termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga "sisik"nya dapat melukai kulit pengganggunya.
Trenggiling terancam keberadaannya akibat habitatnya terganggu serta menjadi obyek perdagangan hewan liar.

Jumat, 26 Juni 2009

Kancil




Kancil (foto : Kompas, Wildlifefauna, Paleojura)

Pelanduk atau kancil (nama ilmiah: Tragulus javanicus) adalah hewan menyusui (mamalia) sebangsa kijang yang kecil tubuhnya. Pelanduk adalah spesies rusa berkuku genap dari keluarga Tragulidae. Pada ukuran dewasa ukurannya sama dengan kelinci. Pelanduk berhabitat di hutan hujan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pelanduk termasuk salah satu mamalia terkecil di dunia.

Senin, 22 Juni 2009

Macan Dahan


Macan dahan (foto:animalpicturesarchive)


Macan dahan atau dalam nama ilmiahnya Neofelis nebulosa adalah sejenis kucing berukuran sedang, dengan panjang tubuh mencapai 95cm. Spesies ini pada umumnya memiliki bulu berwarna kelabu kecoklatan dengan gambaran seperti awan dan bintik hitam di tubuhnya. Bintik hitam dikepalanya berukuran lebih kecil dan terdapat totol putih di belakang kuping. Macan dahan mempunyai kaki pendek dengan telapak kaki besar serta ekor panjang dengan garis dan bintik hitam. Macan dahan betina serupa.
Daerah sebaran macan dahan adalah Asia Tenggara, di hutan dataran rendah dan pegunungan di Republik Rakyat Cina, Indocina, Semenanjung Melayu, India, Pulau Kalimantan dan Sumatra. Spesies ini telah punah di alam bebas di Republik Cina.
Macan dahan adalah hewan nokturnal yang aktif berburu di malam hari. Hewan ini banyak menghabiskan waktunya di atas pohon dan dapat bergerak dengan lincah di antara pepohonan.
Berkas:Cloudedleopard.jpg
Mangsa macan fahan terdiri dari aneka satwa liar berbagai ukuran seperti kera, ular, mamalia kecil, burung, rusa dan bekantan. Macan fahan menggunakan lidahnya untuk membersihkan bulu-bulu sebelum memakan mangsanya.
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan, populasi yang terus menyusut dan penangkapan liar yang terus berlanjut untuk di ambil bulunya, konsumsi dan obat-obatan tradisional di beberapa negara, macan dahan dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix

Minggu, 21 Juni 2009

Kucing Hutan

Kucing hutan (foto: Baungcamp)

Kucing hutan di Indonesia terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Ciri-ciri fisiknya adalah : panjangnya 45 cm (tidak termasuk ekor) panjang ekornya sendiri sekitar 20 cm hingga 40cm.

Warna kucing hutan adalah kuning kecoklatan dengan belang-belang hitam di seluruh tubuhnya, bulunya halus dan pendek.

Makanan kucing hutan adalah binatang-binatang yang lebih kecil seperti tikus, bajing, burung, tupai, dan lain-lain.

Banteng

Banteng (foto: wildcattleconservation)
Banteng, Bos javanicus, adalah hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, and Bali. Beberapa jenis banteng ditemukan pula di Australia Utara yang dibawa ke sana pada masa kolonisasi Britania pada 1849.
Banteng tumbuh hingga tinggi sekitar 1,6 m di bagian pundaknya dan panjang badan 2,3 m. Berat banteng jantan biasanya sekitar 680 - 810 kg – jantan yang sangat besar bisa mencapai berat satu ton – sedangkan betinanya memiliki berat yang lebih kecil. Banteng memiliki bagian putih pada kaki bagian bawah, punuk putih, serta warna putih disekitar mata dan moncongnya, walaupun terdapat sedikit dimorfisme seksual pada ciri-ciri tersebut. Banteng jantan memiliki kulit berwarna biru-hitam atau atau coklat gelap, tanduk panjang melengkung ke atas, dan punuk di bagian pundak. Sementara, betinanya memiliki kulit coklat kemerahan, tanduk pendek yang mengarah ke dalam dan tidak berpunuk.
Banteng hidup dari rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tapi pada daerah pemukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor.
Banteng telah didomestikasi di beberapa daerah di Asia Tenggara yang jumlahnya mencapai sekitar 1,5 juta ekor. Banteng ternak dan liar dapat dikawinkan dan keturunan yang dihasilkannya sering kali subur.

Gajah Sumatera

Gajah Sumatera (foto: outlandjava)
Gajah Sumatra adalah subspesies dari gajah Asia yang hanya berhabitat di pulau Sumatra. Gajah Sumatra berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah India. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam. Sekitar 2000 – 2700 ekor gajah Sumatra yang tersisa di alam liar berdasarkan survei tahun 2000. Sebanyak 65% populasi gajah Sumatra lenyap akibat dibunuh manusia dan 30% kemungkinan diracuni manusia. Sekitar 83% habitat gajah Sumatra telah menjadi wilayah perkebunan akibat perambahan yang agresif untuk perkebunan

Beruang Madu

Beruang madu (foto : faunakaltim)

Beruang madu atau nama ilmianya Helarctos malayanus merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada
di dunia. Berat badannya berkisar antara 30 sampai dengan 65 kilogram, namun
data dari alam sangat terbatas. Beruang madu yang ada di Pulau Borneo
merupakan yang paling kecil dan kemungkinan dapat digolongkan sebagai sub-jenis
(sub-species) dengan nama H.malayanus eurispylus

Sabtu, 20 Juni 2009

Badak Jawa


Badak jawa (foto : dephut, kompas)

Badak Jawa atau Badak bercula-satu kecil (Rhinoceros sondaicus) adalah anggota famili Rhinocerotidae dan satu dari lima badak yang masih ada. Badak ini masuk ke genus yang sama dengan badak India dan memiliki kulit bermosaik yang menyerupai baju baja. Badak ini memiliki panjang 3,1–3,2 m dan tinggi 1,4–1,7 m. Badak ini lebih kecil daripada badak India dan lebih dekat dalam besar tubuh dengan badak Hitam. Ukuran culanya biasanya lebih sedikit daripada 20 cm, lebih kecil daripada cula spesies badak lainnya.
Badak ini pernah menjadi salah satu badak di Asia yang paling banyak menyebar. Meski disebut "Badak Jawa", binatang ini tidak terbatas hidup di pulau Jawa saja, tapi di seluruh Nusantara, sepanjang Asia Tenggara dan di India serta Tiongkok. Spesies ini kini statusnya sangat kritis, dengan hanya sedikit populasi yang ditemukan di alam bebas, dan tidak ada di kebun binatang. Badak ini kemungkinan adalah mamalia terlangka di bumi. Populasi 40-50 badak hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa, Indonesia. Populasi badak Jawa di alam bebas lainnya berada di Taman Nasional CaTien, Vietnam dengan perkiraan populasi tidak lebih dari delapan pada tahun 2007. Berkurangnya populasi badak Jawa diakibatkan oleh perburuan untuk diambil culanya, yang sangat berharga pada pengobatan tradisional Tiongkok, dengan harga sebesar $30.000 per kilogram di pasar gelap. Berkurangnya populasi badak ini juga disebabkan oleh kehilangan habitat, yang terutama diakibatkan oleh perang, seperti perang Vietnam di Asia Tenggara juga menyebabkan berkurangnya populasi badak Jawa dan menghalangi pemulihan.Tempat yang tersisa hanya berada di dua daerah yang dilindungi, tetapi badak Jawa masih berada pada resiko diburu, peka terhadap penyakit dan menciutnya keragaman genetik menyebabkannya terganggu dalam berkembangbiak. WWF Indonesia mengusahakan untuk mengembangkan kedua bagi badak Jawa karena jika terjadi serangan penyakit atau bencana alam seperti tsunami, letusan gunung berapi Krakatau dan gempa bumi, populasi badak jawa akan langsung punah. Selain itu, karena invasi langkap (arenga) dan kompetisi dengan banteng untuk ruang dan sumber, maka populasinya semakin terdesak. Kawasan yang diidentifikasikan aman dan relatif dekat adalah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat yang pernah menjadi habitat badak Jawa.
Badak Jawa dapat hidup selama 30-45 tahun di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah dan daerah daratan banjir besar. Badak Jawa kebanyakan bersifat tenang, kecuali untuk masa kenal-mengenal dan membesarkan anak, walaupun suatu kelompok terkadang dapat berkumpul di dekat kubangan dan tempat mendapatkan mineral. Badak dewasa tidak memiliki hewan pemangsa sebagai musuh. Badak Jawa biasanya menghindari manusia, tetapi akan menyerang manusia jika merasa diganggu. Peneliti dan pelindung alam jarang meneliti binatang itu secara langsung karena kelangkaan mereka dan adanya bahaya mengganggu sebuah spesies terancam. Peneliti menggunakan kamera dan sampel kotoran untuk mengukur kesehatan dan tingkah laku mereka. Badak Jawa lebih sedikit dipelajari daripada spesies badak lainnya.

Badak Sumatra




Badak sumatra (foto WWF)
Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) adalah anggota famili Rhinocerotidae dan salah satu dari lima spesies badak. Badak ini adalah badak terkecil, memiliki tinggi sekitar 120–145 sentimeter, dengan panjang sekitar 250 sentimeter dan berat 500–800 kilogram. Seperti spesies badak di Afrika, badak ini memiliki dua cula.


Harimau Sumatera



Harimau Sumatera (foto discovery & republika)
Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) hanya ditemukan di Pulau Sumatra di Indonesia. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di Taman-taman nasional di Sumatra. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.Penghancuran habitat adalah ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara 1998 dan 2000.


Anoa Sulawesi

Anoa Sulawesi (foto :BPKP)
Anoa adalah hewan khas Sulawesi.Ada dua jenis anoa yaitu: anoa dataran rendah(bubalus deprissicornis) dan anoa pegunugan (bubalus quarlesi) Keduanya tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Penampilan mereka mirip dengan rusa dan memiliki berat 150-300 kg.

Tapir Sumatra

Tapir Sumatra (photo : UCMP)

Tapir Indonesia (Tapirus indicus) sudah hampir punah. Merka cenderung berlinung di hutan belukar selama siang hari,tetapi pergi malam hari untuk mencari makan.Tapir adalah satwa punah yang aneh dengan bentuk seekor babi dengan postur pendek.
Jumlah spesies tapir mulai berkurang akibat perusakan seluruh dunia hutan. Hidup tapir berpasangan, dan berpindah – pindah. Tapir gemar berendam di air selama berjam – jam. Mereka merupakan satwa punah yang pemalu. Apabila kita perhatikan satwa ini sering muncul di film kartun anak – anak.